Takut Kepada Allah
Sunday, April 22, 2007
Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menuturkan, bahwa apabila langit mendung, awan menghitam dan angin kencang, wajah baginda Nabi saw, yang biasanya memancarkan cahaya akan terlihat pucat pasi karena takut kepada Allah. Beliau keluar dan masuk ke masjid dalam keadaan gelisah seraya berdoa (yang artinya)...
"Ya Allah... aku berlindng kepada-Mu dari keburuka hujan dan angin ini, dari keburukan apa saja yang dikandungnya dan keburukan apa saja yang dibawanya."
Aisyah ra. bertanya, "Ya Rasulullah, apabila langit mendung semua orang merasa gembira karena pertanda hujan akan turun. Namun mengapa engkau tampak ketakutan?".
Nabi saw. menjawab, "Aisyah, bagaimana aku dapat meyakini bahwa awan hitam dan angin kencang itu tidak akan mendatangkan azab Allah? Kaum 'Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Saat awan mendung, mereka bergembira karena mengira hujan akan turun, padahal Allah kemudia mendatangkan azab atas mereka." (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)
Subhanallah! Kita sepantasnya takjub dengan rasa takut Rasulullah saw. kepada Allah. Bayangkan, Rasul adalah kekasih-Nya, penghulu ahli surga. Namun, rasa takut kepada Allah sering meyelinap dalam batin Beliau disaat-saat angin mendung dan angin kencang.
Anehnya, banyak manusia yang tidak pernah mendapat jaminan masuk surga, seolah tidak pernah takut dengan azab-Nya. Rasa takut ini pula yang saat ini tidak dimiliki oleh bangsa ini, terutama para pemimpinnya. Berbagai bencana telah mengharu-biru bangsa ini; mulai dari tanah longsor, kebakaran hutan, gempa bumi, banjir lumpur panas, banjir bandang, wabah penyakit flu burung, hingga berbagai kecelakaan alat transportasi. Namun sedikitpun rasa takut kepada Allah itu, tidak pernah terbersit dalam hati. Semua bencana itu dianggap hal biasa; sekedar sejenak membuat duka-lara, lalu kemudia segera lewat begitu saja. Alih-alih ingat akan dosa-dosa dan segera bertaubat kepada sang Pencipta, bangsa ini dan para pemimpinnya seperti sudah "kebal" dengan rasa takut kepada-Nya. Meski bencana datang silih berganti, hutan tetap digunduli; alam tetap dieksploitasi; pengrusakan lingkungan dilakukan gencar tanpa henti.
Di sisi lain berbagai kemaksiatan tetap berjalan seperti biasa. Tak tampak kesungguhan penguasa untuk memberantasnya. Korupsi tetap tak terkendali. Gaji pejabat terus meninggi. Padahal derita dan kemiskinan rakyat makin mengiris hati. Sebagian dari mereka bahkan terpaksa makan nasi basi setiap hari. Sementara itu, pornografi-pornoaksi makin menjadi-jadi. Pelacuran tetap dilindungi. Kekayaan rakyat terus diserahkan kepada pihak asing untuk dikuasai, melalui program 'keren' bernama privatisasi. SDA diangkut keluar negeri. Rakyat hanya bisa 'gigit jari', dan mereka tetap terdzalimi.
Seperti tak mau belajar, bangsa dan pemimpin negeri ini tetap enjoy berkubang dalam sistem Kapilatisme-sekuler. Ideologi dari sistem kufur ini tetap menjadi panutan, meski sudah terbukti menjadi biang kenestapaan. Sebaliknya, ideologi dan Sistem Islam terus dicampakkan. Hukum-hukum Allah masih "dikeranjangsampahkan".
"Ya Allah... aku berlindng kepada-Mu dari keburuka hujan dan angin ini, dari keburukan apa saja yang dikandungnya dan keburukan apa saja yang dibawanya."
Aisyah ra. bertanya, "Ya Rasulullah, apabila langit mendung semua orang merasa gembira karena pertanda hujan akan turun. Namun mengapa engkau tampak ketakutan?".
Nabi saw. menjawab, "Aisyah, bagaimana aku dapat meyakini bahwa awan hitam dan angin kencang itu tidak akan mendatangkan azab Allah? Kaum 'Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Saat awan mendung, mereka bergembira karena mengira hujan akan turun, padahal Allah kemudia mendatangkan azab atas mereka." (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)
*****
Subhanallah! Kita sepantasnya takjub dengan rasa takut Rasulullah saw. kepada Allah. Bayangkan, Rasul adalah kekasih-Nya, penghulu ahli surga. Namun, rasa takut kepada Allah sering meyelinap dalam batin Beliau disaat-saat angin mendung dan angin kencang.
Anehnya, banyak manusia yang tidak pernah mendapat jaminan masuk surga, seolah tidak pernah takut dengan azab-Nya. Rasa takut ini pula yang saat ini tidak dimiliki oleh bangsa ini, terutama para pemimpinnya. Berbagai bencana telah mengharu-biru bangsa ini; mulai dari tanah longsor, kebakaran hutan, gempa bumi, banjir lumpur panas, banjir bandang, wabah penyakit flu burung, hingga berbagai kecelakaan alat transportasi. Namun sedikitpun rasa takut kepada Allah itu, tidak pernah terbersit dalam hati. Semua bencana itu dianggap hal biasa; sekedar sejenak membuat duka-lara, lalu kemudia segera lewat begitu saja. Alih-alih ingat akan dosa-dosa dan segera bertaubat kepada sang Pencipta, bangsa ini dan para pemimpinnya seperti sudah "kebal" dengan rasa takut kepada-Nya. Meski bencana datang silih berganti, hutan tetap digunduli; alam tetap dieksploitasi; pengrusakan lingkungan dilakukan gencar tanpa henti.
Di sisi lain berbagai kemaksiatan tetap berjalan seperti biasa. Tak tampak kesungguhan penguasa untuk memberantasnya. Korupsi tetap tak terkendali. Gaji pejabat terus meninggi. Padahal derita dan kemiskinan rakyat makin mengiris hati. Sebagian dari mereka bahkan terpaksa makan nasi basi setiap hari. Sementara itu, pornografi-pornoaksi makin menjadi-jadi. Pelacuran tetap dilindungi. Kekayaan rakyat terus diserahkan kepada pihak asing untuk dikuasai, melalui program 'keren' bernama privatisasi. SDA diangkut keluar negeri. Rakyat hanya bisa 'gigit jari', dan mereka tetap terdzalimi.
Seperti tak mau belajar, bangsa dan pemimpin negeri ini tetap enjoy berkubang dalam sistem Kapilatisme-sekuler. Ideologi dari sistem kufur ini tetap menjadi panutan, meski sudah terbukti menjadi biang kenestapaan. Sebaliknya, ideologi dan Sistem Islam terus dicampakkan. Hukum-hukum Allah masih "dikeranjangsampahkan".
*****
Rasulullah saw dan para Sahabat adalah orang-orang yang paling takut kepada Allah. Padahal mereka telah dijamin masuk ke dalam surga-Nya. Demikian pula para tabi'in dan generasi sesudah mereka. Kebanyakan mereka adalah generasi yang mengisi hari-harinya dengan amal-ibadah; malam-malamnya diisi dengan dzikir, tilawah Al-Qur'an dan qiyamul lail; siang sering diisi dengan shaum sembari tetap mencari nafkah, berdakwah bahkan berjihad (berperang) di jalan Allah.
Mereka takut kepada Allah bukan karena kemaksiatan yang mereka lakukan (karena mereka bukan tipe tukang maksiat), atau karena kewajiban yang mereka tinggalkan (karena mereka bukan kaum yang suka melalaikan kewajiban). Namun, rasa takut kepada Allah sering hanya karena mereka merasa kurang dalam melakukan ibadah sunnah (padahal merekalah ahlinya), atau dalam bersedekah (padahal merekalah yang paling pemurah), atau dalam meninggalkankan hal-hal yang mubah (padahal merekalah yang paling sering meninggalkan hal-hal yang mubah, yang mereka pandang tak membawa berkah).
Rasul saw. pernah tidur gelisah sepanjang malam hanya karena siangnya memakan sebutir kurma dirumahnya, yang beliau khawatirkan merupakan kiriman dari orang untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Abu Bakar ra. pernah memuntahkan kembali makanan yang pernah dimakannya, karena ia tahu bahwa makanan itu pemberian seorang paranormal. Umar ra. pernah menolak keinginan istrinya untuk menimbang minyak kesturi dari Bahrain yang diperuntukkan bagi kaum muslimin hanya karena takut istrinya kecipratan minyak tersebut. Soalnya, ia khawatir mendapatkan hak yang lebih dibandingkan dengan yang seharusnya diterima oleh kaum muslim lain. Abu Thalhah pernah mewakafkan kebunnya hanya karena ia pernah mengingatnya ketika shalat. Imam Abu Hanifah pernah menolak berkali-kali tawaran khalifah al-Manshur untuk menduduki jabatan hakim agung hanya karena khawatir tidak berlaku adil dalam memutuskan. Padahal saat itu tidak ada ulama yang paling mampu berijtihad dan paling wara' (berhati-hati) selain dirinya. Imam al-Ghazali konon pernah menangis hanya karena ketiduran hingga ketinggalan satu kali menunaikan shalat malam. Imam Izzuddin bin Abdissalam pernah menyusuri berbagai wilayah yang jauh hingga ke kampung-kampung hanya karena khawatir orang-orang mengamalkan fatwanya, yang di kemudian hari ia sadari kurang kuat dasar pendalilannya. Demikianlah orang-orang salih semacam ini, yang memiliki rasa takut yang sangat tinggi kepada Allah, amat banyak jumlahnya pada masa Sahabat, tabi'in dan tabi'at-tabi'in.
Bagaimana dengan generasi muda saat ini? Jangankan atas ibadah sunnah yang ditinggalkan, atau atas perbuatan makruh yang dikerjakan, bahkan atas berbagai kewajiban yang ditinggalkan dan ragam kemaksiatan yang dilakukan, mereka seolah tidak takut akan balasannya yang keras dari Allah Swt. Penguasa tetap menerapkan hukum-hukum kufur. Para ulama pun terkesan enggan mendorong mereka untuk menerapkan syariat-Nya yang luhur. Akibatnya negeri ini pun makin hancur. Astaghfirullah....
(Dikutip dari majalah Al-Wa'ie edisi Maret 2007)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Artikel fav saya nih...
Duh, mbacanya seperti tersindir habis-habisan, tertampar mati-matian..... Malu sama Allah, malu sama diri sendiri..... Maluuu......(Hikzz.... Ya Allah.....
). Artikel ini juga menjadi penyemangat saya ngaji... Moga, jadi penyemangat para pembaca juga ya...
Gak boleh cepat puas dengan apa yang udah didapat. Karena sesungguhnya itu masih sedikitt..sekali.....
Oiya, sekalian promosi, kalo ada yang berminat membeli majalah Al-Wa'ie, silahkan pesan ke saya. Terbitnya bulanan. Harganya Rp. 5.500. Moga bermanfaat.....
Mereka takut kepada Allah bukan karena kemaksiatan yang mereka lakukan (karena mereka bukan tipe tukang maksiat), atau karena kewajiban yang mereka tinggalkan (karena mereka bukan kaum yang suka melalaikan kewajiban). Namun, rasa takut kepada Allah sering hanya karena mereka merasa kurang dalam melakukan ibadah sunnah (padahal merekalah ahlinya), atau dalam bersedekah (padahal merekalah yang paling pemurah), atau dalam meninggalkankan hal-hal yang mubah (padahal merekalah yang paling sering meninggalkan hal-hal yang mubah, yang mereka pandang tak membawa berkah).
Rasul saw. pernah tidur gelisah sepanjang malam hanya karena siangnya memakan sebutir kurma dirumahnya, yang beliau khawatirkan merupakan kiriman dari orang untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Abu Bakar ra. pernah memuntahkan kembali makanan yang pernah dimakannya, karena ia tahu bahwa makanan itu pemberian seorang paranormal. Umar ra. pernah menolak keinginan istrinya untuk menimbang minyak kesturi dari Bahrain yang diperuntukkan bagi kaum muslimin hanya karena takut istrinya kecipratan minyak tersebut. Soalnya, ia khawatir mendapatkan hak yang lebih dibandingkan dengan yang seharusnya diterima oleh kaum muslim lain. Abu Thalhah pernah mewakafkan kebunnya hanya karena ia pernah mengingatnya ketika shalat. Imam Abu Hanifah pernah menolak berkali-kali tawaran khalifah al-Manshur untuk menduduki jabatan hakim agung hanya karena khawatir tidak berlaku adil dalam memutuskan. Padahal saat itu tidak ada ulama yang paling mampu berijtihad dan paling wara' (berhati-hati) selain dirinya. Imam al-Ghazali konon pernah menangis hanya karena ketiduran hingga ketinggalan satu kali menunaikan shalat malam. Imam Izzuddin bin Abdissalam pernah menyusuri berbagai wilayah yang jauh hingga ke kampung-kampung hanya karena khawatir orang-orang mengamalkan fatwanya, yang di kemudian hari ia sadari kurang kuat dasar pendalilannya. Demikianlah orang-orang salih semacam ini, yang memiliki rasa takut yang sangat tinggi kepada Allah, amat banyak jumlahnya pada masa Sahabat, tabi'in dan tabi'at-tabi'in.
Bagaimana dengan generasi muda saat ini? Jangankan atas ibadah sunnah yang ditinggalkan, atau atas perbuatan makruh yang dikerjakan, bahkan atas berbagai kewajiban yang ditinggalkan dan ragam kemaksiatan yang dilakukan, mereka seolah tidak takut akan balasannya yang keras dari Allah Swt. Penguasa tetap menerapkan hukum-hukum kufur. Para ulama pun terkesan enggan mendorong mereka untuk menerapkan syariat-Nya yang luhur. Akibatnya negeri ini pun makin hancur. Astaghfirullah....
(Dikutip dari majalah Al-Wa'ie edisi Maret 2007)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Artikel fav saya nih...
). Artikel ini juga menjadi penyemangat saya ngaji... Moga, jadi penyemangat para pembaca juga ya...
Gak boleh cepat puas dengan apa yang udah didapat. Karena sesungguhnya itu masih sedikitt..sekali.....Oiya, sekalian promosi, kalo ada yang berminat membeli majalah Al-Wa'ie, silahkan pesan ke saya. Terbitnya bulanan. Harganya Rp. 5.500. Moga bermanfaat.....

Mudah2an kamis deh..pas di FTSP... (insya Allah....)