Kemana lagi mata ini harus memandang..???
Friday, July 13, 2007


Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab?
Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak
kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus
mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah
sampai kembali masuk rumah lagi.

Dan kamu tau? Di luar sana, kemana arah mata
memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak.
Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang,
mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.
Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas
"Tank Top", noleh ke kiri pemandangan "Pinggul/udel
terbuka", menghindar kekanan ada sajian "Celana ketat
plus You Can See", balik ke belakang dihadang oleh
"Dada indah/montok menantang!"

Astaghfirullah... kemana lagi mata ini harus memandang?
Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka.
Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin
hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup
dengan pemandangan yang membuat saya tenang.
Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata.
Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau
dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang
membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh
pikiran "ngeres" dan hatipun menjadi keras.

Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan
oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi,
saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi.
Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk
menarik lelaki untuk menikmati "aset berharga" yang mereka
punya.

Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar
kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada
wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah
berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang
punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda
malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata
lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah
objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda
melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi.

Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang
lelaki? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan
begitu alias gampangan!

Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah
membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh
penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata
lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri
anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh,
pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan.

Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda
menjawabnya "lelaki" bukan? Oh betapa tersiksanya
menjadi seorang lelaki normal di jaman sekarang ini.
Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau
tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan
beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu
gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk
menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan
penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin
siapa yang melihat ingin mencicipinya.

Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan
pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata
setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke
mana? Apakah saya harus menikmatinya...? tapi saya
sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini.
Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti?
sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.
Allah Taala telah berfirman: "Katakanlah kepada
laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan
pandangannya dan memelihara kemaluannya", yang
demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
perbuat.

Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di
ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap
sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya
hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata
saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak
bisa pertanggungjawabkan nantinya di Akhirat.

Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall,
jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan
keseksian.
Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti
saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian
besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa.

Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan
semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi
memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk.
Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati
pemadangan yang anda tayangkan?

So, saudaraku muslimah berjilbablah ... karena itu sungguh nyaman,
tentram, anggun, cantik, mempesona dan tentunya sejuk dimata lelaki.

"Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya (pakaian) ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Ahzab : 59]

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya......." [QS. An-Nur : 31]

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

[Curahan hati seorang laki-lagi yg saya kutip dari sebuah situs...... Jadi maaf kalo ada kata-kata yg kurang berkenan....Semoga dapat membuka wacana kita semua, khusunya para muslimah..... Karena... Emansipasi wanita tidak dicapai dengan baju kekecilan, celana kesempitan dan puser keliatan...'tul kan sist???  ]


Close Quarters
Friday, June 29, 2007

Pernah merasakan berada dalam situasi terjepit???
Kondisi dimana kita harus mengambil keputusan cepat, dalam waktu yang sangat terbatas, dengan resiko yang semua pilihan sama besarnya.....
Rasanya bagaimana? Pasti bingung....binguuuunnggg.......
Saya menganalogikan seperti main catur... Saat raja kita di skak mat,...maju salah, mundur salah, kekanan salah, kekiri salah...diampun salah!!!
Ya begitulah rasanya......

Tapi, kurang tepat kalo situasi terjepit dianalogikan seperti skak mat dalam bermain catur. Karena, catur hanyalah sebuah permainan. Ketika salah satu kalah, ya sudah...selesai urusannya...
Karena, biasanya situasi terjepit turut mempertaruhkan banyak komponen kehidupan manusia. Contoh : nyawa, persahabatan, nama baik, kedudukan, hingga.....dien ini pun bisa jadi taruhannya........

Ingat dengan kisah para Sahabat Rasulullah???? Gak sedikit dari mereka yang pernah beada dalam situasi terjepit... Gak tanggung-tanggung, nyawa dan keluarga hingga dien ini jadi taruhannya.

Hikz.....sungguh.... berada dalam situasi terjepit itu sangat tidak enak......sungguh......

Ingatlah, bahwa situasi terjepit terjadi ketika salah dalam analisis keadaan sampai pada implementasi strategi.... Situasi terjepi adalah sebuah akibat, yang sebab-sebabnya (sebetulnya) masih bisa diikhtiarkan....
Maka....jangan sampai situasi terjepit kita rasakan saat tidak lagi punya kesempatan kedua. Jangan sampai situasi terjepit kita rasakan saat tidak ada lagi kesempatan memperbaiki kesalahan analisis dan strategi yang telah berlalu..... Dimana itu??? Ketika diri ini telah berpulang kehadapan-Nya....

[Lagi gak ada ide nulis.....tapi pengen nulis...... ]
I.P.D.N ?!
Friday, April 13, 2007
Obrolan Ibu-Ibu tentang IPDN

Suatu sore di sebuah kampung di bilangan Jatinegara, sekelompok ibu-ibu berkerumun sedang belanja sayur sambil ngobrol seru, nampak wajah mereka sangat serius. Asyik sekali.. pikir saya pasti sedang ngegosipin artis sinetron. Namun dilihat dari raut mukanya tampaknya mereka kesal sekali, diam-diam saya mendekat bukan maksud mau nguping tetapi penasaran aja dengan tema yang sedang dibicarakan. Ooh.. aku baru tau nampaknya mereka sedang ngobrolin tayangan berita sebuah
stasiun TV tentang kasus penganiayaan di IPDN. Berikut sedikit petikan pembicaraan yang seru dan meledak-ledak dari para "pengamat berita" ini....

"Tuh kan apa saya bilang... IPDN itu, Institut Penganiayaan Dalam Negeri... ! Masak anak orang dihabisin hanya gara-gara telat datang ke acara yang nggak jelas, dasar gak tau diri!".
"Bukan Nyak, tapi IPDN itu, Institut Pembantaian Dalam Negeri..!", sahut ibu penjual sayur tak mau kalah.
"Kalo nurut saya sih masih jadi pelajar aja kayak gitu ntar kalo udah jadi pejabat pasti jadi diktator, makanya IPDN itu, Institut Pengkaderan Diktator Negara..!", seru ibu yang sedari tadi bolak balikin sayur bayam.
"Betul juga jeng Neni, tapi saya paling gak suka sama kelakuan mereka yang suka maen keroyok
kalo berani kenapa gak satu lawan satu tuh kayak di pilem koboy makanya dinamain aja IPDN, Institut Paling Demen Ngeroyok..!! ", seru ibu gendut itu gemas sambil membanting labu siam diantara sayur yang makin berserakan.
"Iya betul tuh sekalian aja dinamain IPDN, Ikatan Praja Doyan Nonjok ...!", sambar bu RT sambil bersungut-sungut. "IPDN, Injak Pukul Dorong Nah ... mati..!!, celetuk ibubertubuh kerempeng itu sambil praktekkan gaya silatnya.
"Inginnya Pendidikan, Dapetnya Nisan... nah itulah IPDN... kasihan orang tua yang udah susah payah kirim anaknya kesana pulang-pulang bikin batu nisan... !!", tukas bu Neni makin kesal.
"Yang kayak gini neh, pasti kerjaan para pejabat yang gak punya tanggung jawab dan wawasan
kebangsaan, mestinya kan mereka sebagai pengontrol dan pengawas tetapi kenapa korban udah berjatuhan kayak gini kok didiemiin aja dari dulu, kayaknya sih sengaja biar budaya pejabat junior harus
takut dengan senior tetap hidup, kan ntar gampang diajak kongkalikong kali ya? namanya juga IPDN, Ideologi Pejabat Durjana Negara", sahut ibu setengah baya berkerudung itu.
"Yah IPDN, Inilah Pendidikan Dalam Negeri kita.. pantas aja korupsi gak habis-habis, wong mentalnya aja udah kayak mafia. Tiba-tiba nenek tua yang sedari tadi diam saja tergopoh-gopoh keluar dari kerumunan menuju kearah rumah bu RT, sambil iseng saya pun bertanya,
"Nek, kalo menurut nenek IPDN itu apa ?". Nenek itu melotot kesal kearahku sambil berteriak, "Ingin Pipis Dulu Nak ...!!". Ups..! wajahku memerah sambil nyengir saya ngaciir....

--- dapet dari temen SMA ---

Ternyata, gak hanya biaya pendidikan yang makin melangit... Tapi, resiko "resiko" ketika menempuh pendidikan juga makin rumit. Memang, gak semua sekolah kaya IPDN "gitu", tapi tetap saja, diakui atau tidak, Sistem Pendidikan kita BELUM MAMPU menghasilkan output SDM yang dapat membuat bangsa ini BANGKIT!